MUDIK

0
116

Hari ini, 6 Mei 2021, secara resmi Larangan Mudik diberlakukan. Sampai nanti tanggal 17 Mei 2021.

Sebelum itu, seminggu kemarin, ramai para pekerja di Ibukota mudik duluan. Menghindari periode larangan maka mereka mudik sebelum tgl 6 dan nanti balik setelah tgl 7 Mei. Termasuk sopir dan asisten rumah tangga saya sudah mudik duluan 😁.

Padahal aturan Larangan Mudik itu dibuat untuk mencegah orang mudik, supaya tidak ada media / kegiatan penularan baru Covid-19. Mengingat di negara2 lain sudah ada serangan C19 gelombang ketiga, kita berusaha mencegah itu terjadi di Indonesia.

Pemerintah sudah membuat serentetan aturan Pelarangan Mudik, mulai dari Peraturan Menteri Perhubungan no:13 / 2021 sampai yg terakhir Keputusan Gubernur DKI no: 569 / 2021 tentang SIKM (Surat Izin Keluar Masuk).

Tapi peraturan tinggal peraturan. Apapun peraturannya selalu bisa “diakali”. Seperti mudik sebelum waktunya tadi, dan berikutnya saya khawatir ada banyak penyalah-gunaan SIKM juga. Dan tahun lalu ada kasus manusia2 yg mau mudik dimasukkan ke dalam mobil box ditutup terpal seperti barang. Sangat membahayakan.

Yang perlu diperbaiki untuk menanggulangi penyebaran C19 ini tampaknya adalah mind set dari masyarakat tentang C19 dan juga tentang “Mudik”.

Pertama tentang Covid-19, masyarakat sampai ke kampung2 terpencil (terutama sih di perkotaan yg padat) harus benar2 disadarkan akan bahayanya. Dikasih berita atau ditampilkan film2 YouTube betapa sengsaranya Rakyat India karena C19 misalnya. Ini mesti jadi tugas semua pihak bukan hanya pemerintah. Tapi juga para tokoh masyarakat dan tokoh agama. Betapa bahayanya para ustadz yg “haree geenee” masih menceramahi ummatnya bahwa Covid itu kerjaannya Yahudi laknatullah. Bahkan baru2 ini ummat Islam dipermalukan dengan video viral jamaah yg diusir oleh pengurus masjid karena memakai masker. Saya benar2 miris melihatnya.

Yang kedua adalah paradigma tentang “mudik”. Di masyarakat kita, mudik sudah sangat mendarah-daging. Mudik sudah merupakan ritual agama yg “wajib / harus” dilakukan. Kalau tidak mudik jadi gak sah Lebarannya (?). Karena mindset ini sudah melekat erat di kalangan masyarakat perlu upaya ekstra keras untuk mengubahnya, supaya kembali ke “jalan yg benar”.

Sepengetahuan saya yg wajib itu silaturahim nya… bukan mudik nya. Kalaupun silaturahim harus dengan mudik (ketemu muka), waktunya juga tidak harus di hari2 Lebaran. Ini demi kemashalatan yg lebih besar yaitu: menghindari masyarakat binasa karena Covid-19, sang virus jahannam.

Yang harus mengubah mindset ini terutama adalah para Ulama. Tapi ada lagi sebenarnya agent of change yg bisa mempengaruhi pandangan masyarakat tentang mudik. Yaitu para orang muda generasi Millenial dan gen Z.

Jaman medsos seperti ini para influencer muda mesti ikut bertanggung-jawab menyelamatkan negara kita dari Covid-19. Misalnya dengan membalik pendapat bahwa “mudik itu harus” menjadi “Gak Mudik, Tetep Asyik” atau “No Mudik, No Cry” atau “Mudik?! Tinggal Click!”. Pokoknya hal2 yg sekiranya bisa silaturahim itu tidak harus ketemu fisik. Bisa memanfaatkan teknologi yg ada. Dari Video Call, Zoom, Live Streaming dll. Paling asyik kalau pakai cara dan bahasa mereka, para kawula muda tsb.

Itu salah satu alternatif nya. Walaupun cuma “salah satu” tapi saya kira akan cukup efektif mengubah mindset masyarakat tentang mudik dan membantu mengurangi penyebaran virus Covid-19. Paling tidak, di kalangan para generasi muda kita. Yang prosentasenya makin lama makin besar.

Selamat Idul Fitri 1442 H. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

MTZ